|
Judul: Kado Hari Jadi: etika Pelaku dan Korban Setara oleh Windu W. Jusuf Kontributor Rumahfilm.org, Penulis adalah programer Kinoki. Sebaik apapun film horor, mistis atau slasher, dalam soal karakterisasi ia akan selalu formulaik. Jika itu film tentang arwah penasaran dan mencari korban, pasti si hantu akan mencari korban yang memiliki ciri spesifik yang mirip dengan orang yang dulu membunuh atau memperkosanya—atau memang langsung mencari pelakunya sendiri. Jika film itu tentang sekelompok anak yang nekat memasuki rumah kosong tempat sang hantu bersemayam, pasti mereka akan mati satu-satu dengan cara yang nyeleneh, dan rekaman perjalanan mereka nantinya akan dinikmati oleh kita yang masih hidup di tempat lain.
|
|
|
oleh Eric Sasono “Sesudah menonton film ini, saya bangga menjadi orang Indonesia”. Kalimat itu diucapkan oleh dua penonton berbeda sesudah menonton dua film berbeda di tahun 2007 lalu. Mereka menyatakannya sesudah menonton film Nagabonar Jadi 2 (Deddy Mizwar) dan Kala (Joko Anwar). Kedua film itu menghasilkan reaksi serupa. Kenapa? Lebih menggelitik lagi, memang adakah “Indonesia” dalam kedua film tersebut? Mencari sebuah kolektivitas bernama negara bangsa dalam sebuah film seharusnya bukan merupakan proses yang kelewat rumit. Beberapa akademisi dan kritikus memang menggunakan pendekatan faktual yang menyatakan bahwa apa yang ada di layar itulah sesungguhnya wajah kita. Layar hanya cermin saja bagi apa yang sebenarnya menjadi impian dan idealisasi kita (secara sadar ataupun tidak). Pendekatan lain menghindar cara berpikir demikian. Mengidentikkan gambaran di layar dengan diri sendiri berarti tunduk pada selera massa yang mudah dikendalikan oleh rangsangan instan terhadap impuls manusia. Film sebagai media yang larger-than-life selalu punya perangkat paling lengkap dan efektif dalam mengendalikan impuls itu. Maka penyerupaan layar film dengan wajah kita adalah sebuah misrepresentasi yang berbahaya, karena di dalamnya terkandung penghindaran terhadap soal-soal yang berada di luar jangkauan impuls yang instan itu. Perenungan dan kompleksitas serta penghadiran dimensi kerap ditundukkan di bawah kepentingan mencari keuntungan saja.
|
|
|
oleh Eric Sasono Alisha (Ladya Cheryl) punya banyak patung kelinci putih di dalam laci di rumahnya. Salah satu kelinci putih itu ia pajang di lemari kaca – siapa tahu ada orang yang mengambilnya. Bari (Donny Alamsyah) adalah orang itu. Bari cukup iseng untuk mengambil patung kelinci putih itu ketika ia bekerja membersihkan kolam renang di rumah Alisha. Bari tak tahu apa akibat keisengannya itu. Ia tak tahu bahwa sutradara dan pencetus cerita film ini, Mouly Surya, sudah merencanakan sejak semula bahwa Alisha adalah kebalikan dari tokoh Alice dalam Alice in Wonderland karya legendaris dari Lewis Carol. Maka Alisha, bagai Alice, mengikuti kelinci putih yang dibawa Bari dan masuk ke dalam sebuah lubang – sebuah dunia lain yang bernama dunia nyata. Bari, yang ternyata seorang penulis yang sedang berjuang menyelesaikan tulisannya sembari bekerja serabutan, harus bersiap untuk menerima kenyataan bahwa kehidupannya tak akan lagi sama. Selama ini Alisha hidup di dunia tidak nyata. Tepatnya, kenyataan tempat Alisha hidup terlalu mirip dengan dunia mimpi, mimpi buruk. Ayahnya seorang jenderal superkaya yang bisa menggaji bekas intel untuk menjadi supir, sekalipun tugasnya lebih mirip tugas sipir. Ibu Alisha hanya datang kepadanya sebagai mimpi buruk atau sebagai sosok mirip hantu yang mengambil pistol dari tempat rahasia dan membicarakan mengenai adanya perempuan lain dan rencana pembunuhan dirinya oleh sang ayah, lantas menembakkan pistol itu ke kepalanya sendiri.
|
|
|
oleh Hikmat Darmawan Keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut. Pepatah itu saya dengar lagi dari Irshad Manji, seorang aktivis Islam dari Kanada (sekarang tinggal di New York) yang kontroversial karena banyak menggugat status quo dunia Islam, dalam wawancara ketika dia datang ke Jakarta. Waktu itu, saya teringat kapan saya pertama kali mendengar pepatah itu: sebuah komik berjudul Asterix dan Orang-orang Normandia. Mungkin itu pepatah terkenal di Barat. Lengkapnya, ia berbunyi: keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, tapi kemampuan kita mengatasi rasa takut itu (oleh Manji, ditambahi ...”untuk melakukan hal yang benar”). Dan saya teringat lagi ungkapan itu ketika menghadiri press conference film May karya Viva Westi (Suster N). Acara jumpa pers diadakan setelah pemutaran film May untuk wartawan. Sewaktu menonton, saya dalam hati memuji keberanian Viva dalam film ini. Ada banyak keberanian itu: dari segi kekisahan, Viva berani melawan arusutama film Indonesia (di tempat lain juga, seperti Hollywood), yakni menggunakan alur bolak-balik atau alur waktu maju-mundur yang mencampur begitu saja masa lalu dan masa kini. Ini seperti menentang ‘kebijakan’ umum film kita yang agak mengharamkan alur macam ini, karena dianggap terlalu rumit bagi penonton umum.
|
|
|
(Wawancara) Bela Tarr: Hanya Sutradara Film Iklan Saja yang Memikirkan Penontonnya oleh Asmayani Kusrini Walaupun saya mulai menonton film sejak jaman Ira Maya Sopha jadi Cinderella, toh saya baru ‘melek film’ dua-tiga tahun terakhir ini. ‘Melek’ film artinya sekarang saya tidak lagi bingung ketika ditanya, Willy Dozan itu aktor laga dari Hongkong atau Magelang. Sekarang saya tidak lagi bisa ‘dikibuli’ ayah saya --yang penggemar film silat-- bahwa Bruce Lee itu kakak tertua Stephen Chow, dan Jet Li itu adik bungsunya, dan Andy Lau itu sepupu mereka. Meskipun begitu, toh, kecenderungan ‘menyamaratakan’ masih belum bisa lepas juga. Dan Béla Tarr adalah salah satu ‘korban’ penyamarataan itu. Dulu, bagi saya, semua film hitam putih itu adalah film klasik. Dan semua sutradara film klasik, pada umumnya sudah wafat. Berkali-kali saya menganggap, bahwa Béla Tarr sudah berstatus almarhum gara-gara anggapan naïf ini. Saya memang teledor dan sudah berkesempatan untuk minta maaf langsung. Tapi saya punya alasan. Ketika menonton salah satu filmnya, berjudul Karhozat (Damnation) disebuah bioskop kecil di Budapest beberapa tahun lalu, saya pikir, ini pasti salah satu film klasik yang sering lupa disebut oleh teman-teman saya para maniak film. Saya membayangkan, sutradaranya pastilah satu angkatan dengan Andrei Tarkovsky atau bahkan Sergei Eisenstein.
|
|
|
Oleh: Eric Sasono Bukan hanya mirip dalam soal rambut gondrong dan kumis lebat, tapi juga dalam sikap yang ’revolusioner’. Mereka sama-sama ikonik di zaman dan tempat berbeda. Che sudah lama mati, dan Iwan sudah tak segalak ketika ia berteriak ”Bongkar!” atau ”Bento!”. O ya, Iwan pun sudah tak memelihara kumis sekarang dan tak gondrong macam dulu. Masih ada yang sama antara mereka: masa revolusioner Iwan dan Che sudah lewat. Film Kantata Takwa memang lewat 18 tahun dari waktu rilis yang seharusnya. Film yang pasti memecahkan rekor dalam rentang waktu antara syuting hari pertama (Agustus 1990) dan pemutaran publik perdananya (April 2008), akhirnya bisa bersentuhan juga dengan publik. Setelah tertunda sekian lama sampai terendam banjir segala, Singapore International Film Festival tahun ini mendapat kehormatan menjadi tempat world premiere film dengan banyak nama seniman besar Indonesia itu. Film ini sempat muncul di daftar film penting yang tak selesai; seakan sebuah janji bahwa sebuah gagasan luar biasa dicatat di dalamnya. Nama-nama besar (ketika itu dan mungkin sampai kini) ada di sana. Kredit penyutradaraan jatuh pada dua nama: Eros Djarot yang legendaris dengan Tjoet Njak Dhien dan musik Badai Pasti Berlalu, dan Gotot Prakosa sang pelopor animasi eksperimental negeri ini. Supervisi ada pada Slamet Rahardjo. Pendukungnya juga tak tanggung-tanggung. Cast-nya diisi dengan nama besar seperti Penyair Burung Merak Rendra, Sawung Jabo, pengusaha-cum-musisi Setiawan Djodi; dan tentu Iwan Fals sendiri. Scoring musik dipegang oleh Jockie Suryprayogo dan penata kamera ditangani oleh orang senior dalam film kita, seperti mendiang Soetomo Gandasubrata yang bisa dibilang melahirkan nyaris seluruh juru kamera yang aktif di perfilman Indonesia saat ini.
|
|
|
oleh Eric Sasono Seekor kucing di tengah jalan bisa berarti banyak buat hidup seseorang. Ia menyebabkan Valdin yang sedang balapan mendadak mengerem motor sportnya. Valdin pun terlempar ke rerumputan di tepi jalan. Ia kalah. Menanglah pemuda kerempeng berjuluk Cacing pada balapan jalanan itu. Selain kehilangan harga diri, Valdin tak boleh lagi mendekati Callista, perempuan cantik kebule-bulean yang jadi rebutan. Agak basi memang, cerita semacam ini sehingga saya tak merasa sedang melakukan pembocoran jalan cerita ketika memberitahu Anda, para pembaca. Sejak premis, film ini sudah basi, sekalipun penilaian macam itu masih bisa ditunda sampai film selesai. Premis basi masih bisa mengelak dari klise kalau proses menonton dihargai. Penghargaan terhadap proses itu lah yang tak ada dalam film ini. Sekujur naskah dipenuhi pemecahan pintas yang rasanya tak bertanya kontemplatif: kira-kira penonton bisa terima nggak ya kebetulan-kebetulan sebanyak dan sekonyol ini?
|
|
|